Terror Psikopat

Namaku kinan siswi kelas 12 SMA, aku tinggal bersama ibuku dan adikku yang masih berumur 9 tahun. Ayahku telah lama meninggal karena sebuah kecelakaan.

Aku dan ibuku baru saja menggalkan rumah lama dan pindah kerumah baru di daerah yang baru juga. Sangat asing bagiku datang ke tempat yang belum pernah aku datangu sama sekali.

Pagi itu, aku, adiku, dan ibuku berjalan-jalan mengelilingi sekitar daerah rumah baruku. Sangat hening, sunyi karena tidak banyak penduduk di daerah ini. Saat mengelilingi daerah baru itu, ibuku mengajak aku dan adiku beristirahat sebentar di taman. ibuku berkata “Nan, coba lihat lelaki yang sedang duduk itu”, “Oh iya kasian dia duduk sendirian seperti sedang bersedih” Jawabku.

Tiba-Tiba, seorang laki-laki itu mengengok ke arah kami dan menghampiri kami. Dia berjalan sambil tersenyum dan menyapa kami “Hai, sepertinya aku tidak pernah melihat kalian. Apakah kalian penduduk baru disini?”. “Oh ya, kami baru beberapa hari dan tinggal disini. Kami penduduk baru disini” Jawab ibuku. Laki-laki itupun menyakan letak rumah kami berada “Perkenalkan saya robi penduduk lama disini. Oh ya, disebelah manakah rumah yang kalian tempati?”. Dengan ramah ibuku menjawab “Saya mira, oh itu di dekat tikungan, rumah berwarna putih”. Setelah mengobrol cukup lama dengan kami laki-laki itu pun pergi meninggalkan kami.

Di malam hari, entah mengapa rasanya sangat sulit bagiku untuk tidur. Seperti ada yang memperhatikanku diluar jendela kamarku. Tapi, itu mungkin hanya perasaanku saja.

Keesokannya, aku kembali bersekolah dengan suntuk mengikuti pelajaran karena semalam aku sangat susah untuk tidur. Saat pulang sekolah dan sedang dijalan pulang kerumah, aku kembali bertemu dengan robi. Dia menyapaku “Hei kinan, bagaimana dengan sekolahmu?” “Sangat melelahkan, karena aku tidak bisa tidur semalaman” jawabku. Diapun menjawab kembali “Hmm, Aku tahu rasanya sulit tidur semalaman pasti sangat tidak merasakan semangat”.

Entah mengapa aku sangat tidak nyaman dengan orang itu, rasanya ingin menjauh darinya.

Saat kembali kerumah aku langsung berbaring di sofa ruang tamu dan tidak terasa aku ketiduran sampai malam. Saat pukul 22.35 aku terbangun dengan seragam sekolah yang masih aku pakai. Akupun bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Namun, ketika aku mau mengambil handukku dikamar, ada sebuah coretan di dinding bertuliskan “Berbaringlah dan kau tidak akan terbangun lagi”. Akupun terkejut dan berteriak sampai ibuku terbangun menghapiriku. Ibuku bertanya ” Kinan, ada apa?”. Aku tidak bisa menjawabnya dan hanya bisa menunjuk ke arah dinding kamarku. Ibuku menyuruhku pergi ke kamarnya dan menyuruhku tidur dikamarnya.

Saat pagi hari, aku terbangun dan ketakutan. Aku tidak masuk sekolah hari ini karena aku masih takut dengan kejadian semalam.

Hal yang menyebalkan terjadi disaat aku sedang mendapatkan kondisi seperti ini. Aku sendirian dirumah karena ibuku mengantarkan adiku naya pergi ke sekolah dan pulang siang nanti.

Aku tidak berani untuk keluar rumah dan hanya menonton tv di tengah ruangan. Benar saja, saat aku sedang menonton tv, ada suara dari kamarku seperti seseorang yang sedang mengacak-ngacak kamarku. Aku tidak tau harus bagaimana aku hanya terpaku sambil gemetar. Tiba-tiba terdengar suara kaki melangkah dari atas tangga menuju kebawah. Aku semakin takut……….akhinya aku lari ke arah dapur untuk mengambil sebuah pisau. Suara langkah kaki tiba-tiba terhenti dan tidak ada lagi.

Aku bergegas keluar rumah, disaat aku berlari keluar tiba-tiba robi ada didepan rumahkh dan bertanya “Hei-hei ada apa kinan?” , aku langsung mengatakan “ada seseorang dirumahku tolong lihatlah kedalam”. Robi dengan beraninya dia masuk kedalam rumah untuk memastikannya. Namun, dia mengatakan tidak ada apa-apa didalam. Robi mencoba menenangkanku dan mengajakku untuk duduk di depan teras rumah.

Aku merasa sudah tenang setelah robi menenangkanku. Tentu saja aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah membantku. Robi bertanya kepadaku “Apa yang kamu rasakan saat ini?”, Akupun menjawab “Entah, aku merasa lelah setiap hari dan merasa ketakutan, aku ingin beristirahat dengan tenang rasanya” Robi pun hanya terdiam menatapku dengan mata kosong. Sungguh aneh orang ini.

Akhirnya ibu telah pulang, sungguh lega rasanya. Ibu heran mengapa ada robi dirumah dan ibu bertanya “Loh ada robi ternyata?”,” Oh ya tadi saya tidak sengaja lewat dan melihat kinan sedang lari ketakutan”. Robi pun langsung pamit pergi

Aku merasa aneh sebenarnya dia itu siapa seorang laki-laki ber-umur 24 tahun, sering berjalan sendirian dan belum tahu keluarganya.

Kejadian aneh kembali terjadi di malam hari. Listrik rumah tiba-tiba kembali mati, ibuku mencoba menyalakan kembali namun tidak bisa. Akhirnya kami hanya memakai lilin saja.

“TUNG…TUNG…TUNGGG”

Seperti besi yang dipukul terdengar dipagar rumah, Aku dan ibuku panik dan bingung ada apa itu. Ibuku menyuruhku untuk pergi ke kamar adiku dan memindahkannya ke kamar ibuku.

Ibuku mengintip dari jendela dan tidak melihat apa-apa. Aku pun kembali menemani ibuku dengan perasaan yang sangat takut. “aaaaaaaaaaaa ibuuuu” Suara teriakan adiku terdengar dari kamar, aku dan ibu langsung menghampirinya. “Naya, ada apa?” Tanya ibuku “Ada yang menarik rambutku bu” Jawab adiku.

“Plak…Plak..” Serpeti ada suara yang melangkah diluar jendela kamar. Ibuku membuka kain jendela kamar dan ternyata….

Ada sesosok laki-laki yang tengah berdiri menatap ke arah kami dengan tersenyum

Kami pun terkejut dan melarikan diri, kami mencoba keluar dari rumah namun pintu rumah tidak bisa dibuka. Kami hanya saling memeluk ditengah rumah

“SLEBERRRRR”

Ada sebuah kertas putih dari atas loteng menuju kebawah dan ada sebuah tulisan yang bertuliskan “Ini tidak akan sakit. Rasanya seperti tertidur begitu cepat”

Kami tidak tau apa maksudnya, kami pun mencoba untuk menelpon polisi lewat ponsel kami, untungnya telpon dari kami langsung direspon oleh polisi.

Namun, pria itu tidak terlihat lagi…

Kami pun mencoba memastikannya kembali, ibuku mengecek keruangan kamar, sedangkan aku dan adiku mengecek dihalaman depan melalui jendela.

“Aaa…”

Suara jeritan ibuku dari kamar terdengar, aku pun langsung mendatanginya. Tapi, Aku terlambat….Ibuku sudah ditusuk pisau olehnya. Aku histeris dan kembali melarikan diri membawa adiku.

Pria, itupun mengejar aku dan adiku dengan memegang pisau yang sudah berlumuran darah ibuku.

“Wiuw..wiuw”

Suara mobil polisi datang dan mencoba masuk kedalam rumahku dengan mendobrak. Pria yang membunuh ibuku sangat tidak panik meskipun ada polisi, dia terus melangkah ke arahku dengan ekspresi yang dingin sambil tersenyum dan berkata “Istirahatmu akan sangat panjang”

“Duar….” Suara tembakan polisi menembak pria tersebut.

Akhirnya ini sudah berakhir…

Aku pun menghampiri ibu, tetapi sayang sekali ibuku sudah tidak bisa diselamatkan.

Aku juga menghampiri polisi yang membawa pria itu dan menanyakan siapa sebenarnya dia. Ternyata….

Dia adalah robi, Aku tidak menyangka.. sangat tidak menyangka..

Kemudian salah satu penduduk di daerahku bercerita, “Dia robi seorang yang memiliki kelainan aneh. Dia baru keluar dari penjara beberapa minggu lalu karena kasus menculik seorang anak kecil. Dia kehilangan orang tuanya saat dia masih SMP, orang tuanya dibunuh oleh perampok yang merampok rumahnya. Dia selalu sendiri dari kecil sampai saat ini”

Aku pun sadar ketika aku melihat robi dia selalu mengekspresikan ketenangan, ekspresi yang dingin seperti tidak memiliki rasa sakit meskipun sebenarnya dia memiliki masa lalu yang tragis. Aku sadar bahwa robi adalah seorang psikopat.

Aku menyayangi ibuku, dia seorang perempuan yang kuat memberanikan diri untuk menyelamatkan anaknya.

THE END